Dampak Buruk Dari Kelebihan Berat Badan (Obesitas) Dapat Menimbulkan Beberapa Penyakit Kronis Ini


Pengertian obesitas dan cara menganalisa obesitas


Meski makanan merupakan suatu kebutuhan harian metabolisme tubuh,namun faktanya ada berbagai jenis makanan yang dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan,pola makan yang tidak teratur atau kebiasaan makan dalam porsi yang besar yang tidak disertai dengan gaya hidup sehat dan aktivitas fisik, dapat menyebabkan peningkatan berat badan tidak terkendali dan berisiko mengalami berat badan berlebih(obesitas).

Hati-Hati,Ternyata Akibat Dari Kelebihan Berat Badan (Obesitas) Menimbulkan Beberapa Penyakit Kronis Ini

Obesitas adalah kondisi kelebihan berat badan yang disebabkan oleh penumpukkan lemak dalam tubuh yang berdampak buruk pada kesehatan. seiring dengan pesatnya perkembangan indusrti Obesitas menjadi salah satu perhatian khusus di seluruh dunia terutama di negara-negara maju di bidang industri, di negara-negara tersebut mengakibatkan populasi obesitas terus meningkat,hal ini dipicu dari penurunan aktivitas fisik masyarakat dan mengalami perubahan pola makan.

Obesitas dapat diklasifikasikan berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan menggunakan rumus Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengukur kadar lemak dalam tubuh. Caranya dengan kalikan tinggi badan anda dengan kuadrat,misalnya tinggi badan 1,68x1,68 =2,8 kemudian dibagi berat badan anda,misalnya berat badan anda 70/2,8 = 25 lalu sesuaikan dengan kriteria IMT pada tabel berikut :

Indeks Massa Tubuh(Kg/m2)Kategori
kurang dari 18.5Kurang ideal
18.5 sampai 24.9 Berat badan ideal
25.0 hingga 29.9
Kelebihan berat badan
30.0 sampai 34.9 obesitas tingkat 1
35.0-4.0 Obesitas tingkat 2
lebih dari 4.0 obesitas tingkat 3

Semakin besar angka Indeks Massa Tubuh semakin meningkat risiko gangguan kesehatan. Masalah yang ditimbulkan obesitas menjadi beberapa jenis masalah diantaranya gangguan secara medis(risiko penyakit),tindakan Pembedahan jika kondisi memburuk,gangguan pada reproduksi wanita,gangguan kehamilan dan masalah sosial.

Rumus IMT hanya metode untuk mengukur kadar lemak dalam tubuh berdasarkan berat badan dan tinggi badan,rumus IMT bukan alat untuk mendiagnosis suatu penyakit

Dampak buruk obesitas


Dampak buruk obesitas terhadap kesehatan secara medis


Obesitas memiliki pengaruh yang buruk bagi kesehatan,sehingga obesitas sering dikaitkan dengan risiko penyakit hipertensi dan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan diabetes tipe 3. Obesitas dapat meningkatkan risiko kardiovaskular yang dapat memicu komplikasi antara kardiovaskular dan hipertensi. Fakta membuktikan bahwa dari peningkatan berat badan per 10kg dapat meningkatkan tekanan darah 3mmHg sistolik dan 2 mmHg diastolik. Obesitas juga menyebabkan resistensi insulin dengan resultan hiperinsulinaemia sehingga insulin meningkatkan tubular reabsorpsi natrium.

Obesitas juga dapat meningkatkan aktivitas renin plasma sehingga dapat memicu hipertensi yang kemudian risiko hipertensi mengarah pada peningkatan risiko untuk penyakit cerebrovascular(gangguan fungsi otak secara drastis) . Obesitas memiliki kecenderungan dalam menghasilkan asam lemak bebas yang tinggi dan menumpuk pada organ hati,kemudian mengarah pada peningkatan hipertrigliseridemia dan berkurangnya peningkatan produksi lipoprotein densitas, yang berfungsi untuk mengangkut kolestrol dan trigli serida. Dalam kondisi ini dapat memicu risiko penyakit jantung koroner,pembentukan dan perkembangan penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh obesitas.



Hiperlipidemia(peningkatan libid atau lemak darah meningkat tidak normal) juga terdapat pada penderita obesitas sebagai low densitas rendah yang merupakan golongan low density lipoprotein (golongan lipoprotein/protein dan lemak yang bervariasi dalam ukuran) yang memiliki fungsi utama untuk mengangkut kolestrol dari hati ke jaringan dengan menggabungkannya dengan membran sel), sedangkan high density lipoprotein(kandungan protein lebih banyak dibanding lemak) dalam kondisi rendah. Jika kadar low density lipoprotein(LDL) dengan high density lipoprotein (HDL) meningkat,dapat memicu atheroma(plaque lemak) pada pembuluh darah yang dapat memicu jantung koroner. Obesitas juga dapat memicu Diabetes mellitus Tipe 2, yang terjadi akibat benturan insulinemia perifer,dari peningkatan asam lemak bebas di hati dapat menghambat pelepasan hormon insulin dalam hati sehingga dapat menyebabkan penurunan sensitivitas insulin pada jaringan perifer(jaringan saraf).

Obesitas dapat memicu risiko kanker yang akut seperti kanker prostat pada pria, dan kanker payudara pada wanita,Obesitas juga juga sangat rentan terkena kanker kolorektal(kanker yang terdapat pada usus besar),kanker empedu,pembentukan batu pada kandung kemih (Cholelithiasis) yang umumnya terdapat pada kandung empedu. Hipertensi, serebrovaskular(gangguan pada pembuluh darah otak),hipertrigliseridemia(kadar lemak melebihi batas), hiperlipidemia(kolestrol tinggi), penyakit jantung koroner. Diabetes mellitus dan artritis degeneratif(gangguan pada sendi),Cholethiasis dan sleep apnea(gangguan pernafasan saa tidur),Kanker payudara, kanker prostat,kanker kolorektal(kanker usus) dan kanker kandung empedu. Akses pemberian obat(intravena) mengalami kesulitan, gangguan visibilitas,kulit kesulitan dalam peningkatan menetralisir infeksi luka, luka dehiscence dan peningkatan risiko trombosis vena dalam.

Artritis degeneratif (peradangan pada sistem saraf dan sumsum tulang belakang) juga lebih banyak terjadi pada orang yang mengalami peningkatan berat badan berlebih atau obesitas. Obesitas (BMI) yang mengalami lebih dari 30kg \ m 2) juga meningkatkan risiko kematian dini. Perkembangan (Predisposisi) gangguan kulit meningkat yang disebabkan lipatan kulit pada orang yang mengalami obesitas,contoh penyakit kulit yang terjadi pada obesitas adalah penyakit kulit ini terlihat pada pasien obesitas termasuk intertrigo(pertumbuhan jamur antara lipatan kulit),eksim,dan sariawan.

Obesitas sering di kaitkan dengan osteoartritis,wanita yang mengalami obesitas dapat mengalami radang sendi pada lutut,dengan menimbulkan masalah pada mobilitas sehingga menimbulkan tubuh kesulitan untuk beraktivitas,sehingga kenaikkan badan terus meningkat secara signifikan. Namun hal ini memiliki keuntungan bagi wanita dengan kelebihan berat badan,yaitu dapat mencegah osteoporosis. Hal ini terjadi karena estorgen disimpan pada jaringan lemak sehingga wanita dengan kelebihan berat badan meliki banyak estrogen yang berfungsi sebagai pelindung dari risiko keropos tulang (osteoporosis).

Gangguan pernapasan juga dapat terjadi pada penderita obesitas yang di sebabkan oleh peningkatan lemak pada dinding dada dan perut yang dapat menyebabkan volume paru-paru berkurang,sehingga dapat menyebabkan gangguan pernafasan dengan nafas yang tidak teratur.

Dampak pada masalah kewanitaan atau Ginekologi(reproduksi wanita)


Menstruasi tidak teratur, amenorea(tidak haid), infertilitas(kemandulan),penyakit ovarium polikistik(gangguan keseimbangan hormon androgen),Kanker endometrium, kanker serviks,kanker payudara dan kanker ovarium,kesulitan dalam pemeriksaan kandungan,Diabetes melitus gestasional, gestasional,hipertensi, pre-eklampsia dan bayi besar,proses persalinan mengalami kesulitan,urin tidak terkontrol.

Masalah yang ditimbulkan oleh obesitas pada wanita bervariasi mulai dari menstruasi yang tidak teratur bahkan sampai berhentinya siklus menstruasi,hal ini terjadi karena gangguan pada metabolisme hormon sex,peningkatan aktivitas adrenal androgen,produksi estrogen meningkat dan peningkatan perubahan sistem perifer androgen menjadi Estrogen pada obesitas. Peningkatan kanker rahim(endometrium) pada wanita obesitas disebabkan karena produksi estrogen meningkat,dampak lainnya pada wanita juga dapat menimbulkan risiko penyakit ovarium polikistik dan mengalami kemandulan.

Dampak buruk lainnya pada wanita yang mengalami obesitas dalam masa kehamilan dapat menimbulkan diabetes mellitus gestasional,hipertensi,kebesaran bayi,pre-eklampsia(komplikasi pada masa kehamilan yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah dan tanda-tanda gangguan pada sistem organ lainnya,seringkali terjadi pada organ ginjal dan hati). Kesulitan pada proses persalinan dapat terjadi pada wanita dengan berat badan pada IMT 2 dan tiga dengan memerlukan waktu yang cukup lama,kesulitan pemeriksaan kehamilan dan obesitas juga dapat mengalami inkontinensia(kehilangan kontrol kadung kemih).

Dampak pada psikologis dan pengaruh sosial


Obesitas juga dapat berdampak pada sosial dan psikologis,wanita dengan obesitas cenderung minder,wanita dengan obesitas lebih memilih makan lebih banyak untuk menghibur dirinya,wanita dengan berat badan berlebih juga cenderung mudah tersinggung dan menjauh dari kontak dengan lingkungan Obesitas juga dapat mempengaruhi psikologis pada penderitanya,hal ini terjadi karena aktivitas catecholamine(hormon yang di keluarkan oleh kelenjar adrenal dalam menanggapi stres) yang mengarah ke infiltrasi hati kelebihan asam lemak bebas(lemak jenuh atau lemak tidak jenuh) dan insulinaemia perifer(kadar insulin berlebih yang bersirkulasi dalam darah) yang dapat menyebabkan penurunan sekresi(proses pembuatan dan pelepasan substansi kimiawi dalam bentuk lendir) natrium ginjal. Merasa harga diri rendah,depresi, minder terhadap pasangan,tingkat emosi meningkat dan masalah pada ukuran pakaian.

Dampak pada proses tindakan pembedahan/caesar


Masalah bedah Obesitas juga dapat menyulitkan pembedahan,hal ini di picu karena sulitnya pada akses kulit dan buruknya visibilitas pada area pembedahan karena lemak dan menyulitkan proses kinerja intravena (metode pemberian obat langsung ke pembuluh darah melalui injeksi atau infus). Hal ini terjadi karena lemak yang berlebih pada dinding perut sehingga menyulitkan proses pemberian obat intravena hemostasis pasca bedah,intravena hemostasis berfungsi sebagai mekanisme tubuh untuk menghentikan kehilangan darah yang berlebihan.

Obesitas juga dapat menyebabkan melambatnya penyembuhan luka pasca operasi,hal ini dipicu karena pembentukkan hematoma(kumpulan darah yang tidak normal di luar pembuluh darah),peningkatan keringat,infeksi pada luka meningkat dan luka dehiscense(komplikasi bedah abnomominal). Risiko lain pasca pembedahan pada obesitas ialah risiko peningkatan trombosis vena(penggumpalan darah paha atau betis) yang mmpengaruhi kesulitan dalam proses ambulasi dini.

Masalah bedah yang menyulitkan obesitas termasuk penurunan akses melalui kulit dan buruk visibilitas lokasi operasi karena lemak.Ada juga kesulitan dalam mengamankan akses intravena . Yang berlebihan lemak di dinding perut dan jumlah yang lebih besar pembuluh darah membuat pengamanan hemostasis intra secara operasional lebih sulit. Juga ada penundaan luka penyembuhan di antara pasien obesitas karena hematoma pembentukan, peningkatan keringat, peningkatan luka infeksi dan dehiscence luka 1,8. Ada sebuah terkait peningkatan risiko Deep Vein Thrombosis (DVT) di antara pasien obesitas yang telah menjalani operasi karena ambulasi dini mungkin sulit.


Untuk perawatan dan pengobatan harus disertai rekomendasi tenaga ahli medis


Upaya untuk pencegahan obesitas


Upaya dasar untuk menurunkan berat badan adalah dengan membatasi asupan kalori dan meningkatkan aktivitas fisik dan rutin berolahraga,hal ini juga upaya untuk menurunkan risiko hipertensi dan penyakit ginjal kronis.

strategi ini mungkin kurang efektif dan memerlukan waktu yang cukup lama dan harus diperhatikan dengan serius,namun setidaknya penurunan berat badan dengan metode ini dalam jangka panjang upaya untuk mencegah konsekuensi kardiorenal dan metabolik pada orang yang mengalami berat badan berlebih atau obesitas.

pembatasan kalori dan peningkatan aktivitas fisik yang pertama yang Rekomendasi pengobatan lini untuk individu obesitas. Ini Strategi ini didasarkan pada data klinis dan hewan menunjukkan bahwa penurunan berat badan yang disengaja dengan diet dan olahraga yang paling meningkat gangguan metabolisme, jantung, dan ginjal berhubungan dengan obesitas. Beberapa studi klinis telah menunjukkan manfaat ginjal khusus untuk mengurangi massa tubuh pada tekanan darah tentu saja, proteinuria, dan fungsi ginjal.


intervensi bedah

intervensi non-bedah seperti diet, olahraga, dan nafsu makan makan,obat penekan sering tidak efektif dalam memproduksi penurunan berat badan jangka panjang yang berlangsung lebih dari 1 tahun. Karena itu,intervensi bedah seperti bedah bariatrik telah dilakukan dievaluasi sebagai strategi untuk mencapai penurunan berat badan jangka panjang dan meningkatkan fungsi ginjal. operasi bariatrik melemahkan dimediasi dislipidemia dan resistensi insulin dan obesitas mengurangi tekanan darah, dan beberapa studi klinis memiliki peningkatan menunjukkan kreatinin serum dan proteinuria dengan operasi penurunan berat badan.


Untuk perawatan penyakit dampak dari obesitas seperti hipertensi,gangguan metabolisme dan penyakit ginjal kronis harus ditangani oleh tenaga medis dan memerlukan Pembedahan untuk menghasilkan penurunan badan yang maksimal.


-->